Artikel

Sukses Sebagai Pengusaha Bondek

Bondek
Bondek

 

Sukses Sebagai Pengusaha Bondek



Satu lagi orang kaya dari Ciamis yang sukses di perantauan. Dia adalah H Maman pemilik Mega Baja Grup. Pria asal Kecamatan Baregbeg Ciamis ini sukses berbisnis baja. Diperkirakan omzetnya Rp 50 miliar perbulan dengan keuntungan rata-rata 20 persen perbulan. Bisnisnya kini merambah ke restoran pusat oleh-oleh dan objek wisata Icakan.

Mega Baja adalah perusahaan niaga yang bergerak di bidang penjualan besi. Mega Baja   merupakan distributor besi terbesar di Jakarta. H Maman mendirikanya pada tahun 2002. Awalnya H Maman adalah tukang besi biasa. Hidunya sangat prihatin. Tapi berkat kegigihanya usaha berkembang cepat. Dengan kerja keras yang tak mengenal lelah dia membuka toko pertama di Jalan Raya Pulogebang.

Mega Baja sendiri telah menjadi distributor tetap bagi pabrik-pabrik baja besar. Misalnya Gunung Garuda, Krakatau Steel, Cakratunggal Steel ataupun Toyogiri Steel. Saat ini menurut Idul, barang yang perputarannya cepat adalah bondek, wiremesh dan besi beton.

Kini usahanya di bawah bendera Mega Baja Indonesia berjumlah 300 cabang. Tersebar di  Pulau Jawa dan Pulau Sumatra di Jawa Barat saja hampir semua di kabupaten dan kota ada Mega Baja.

Berkembangnya perusahaan tersebut karend didukung manajemen proesional dan marketing berbasis IT, serta marketing plan yang dahsyat. Makanya Mega Baja adalah pelopor toko besi waralaba pertama  di Indonesia.

Dalam konsep waralaba, biasanya ada biaya franchise. Mega Baja tidak melakukan itu. Konsepnya, murni kemitraan dimana para calon mitra diberikan kesempatan membangun toko besi sendiri tanpa biaya franchise.

Syaratnya, calon mitra punya ekuitas misalnya modal, lahan, atau gedung untuk membuka toko. Mega Baja memberikan tiga brand toko yang dapat dipilih, “Mitra Mega Baja”, “Mitra Baja”, atau “Mitra Mega”. Calon mitra juga tidak dikenakan fee penggunaan merek dagang.

Soal profit, seluruh pendapatan yang diperoleh juga tidak dikenakan fee, alias seluruhnya masuk ke  kantong mitra.  Lalu darimana Mega Baja mendapat keuntungan? Mega Baja memberikan syarat kepada calon mitra untuk menerima pasokan material dari Mega Baja.

Jadi, dalam konsep ini Mega Baja lebih berperan sebagai suplier bagi mitra kerja. Material-material yang dijual di toko mitra, terutama material pokok seperti wire mesh, besi WF, H beam, besi beton, disuplai langsung dari Mega Baja. Barang-barang itu harus dibayar secara cash oleh mitra kerja. Tentu saja harganya sudah termasuk margin untuk toko. Malah, Mega Baja memberikan kebebasan bagi mitra mematok harga jual.

“Prinsipnya, harga barang dari kita sekian, kalau mitra mau jual sekian atau mengambil untung sekian, silakan saja,” kata Assisten Manajer Mega baja Ujung Menteng, Idul, yang ditemui Tabloid SI di tokonya.

Saat ini pihak Mega Baja mengaku lebih memilih calon mitra yang ingin membuka toko di kota-kota di luar Jawa. Misalnya Palembang, Samarinda atau di wilayah Sulawesi. Hal ini katanya untuk lebih meratakan distribusi. Saran Idul, mitra jangan menjual dengan harga terlalu tinggi karena besi baja sebenarnya punya harga pasar rata-rata. Kalau dijual terlalu tinggi, dikhawatirkan barang jadi tidak laku. “Margin yang diambil sebaiknya margin rata-rata saja, yang penting kesinambungannya,” kata Idul.

Untuk yang tidak laku, barang bisa diretur asal kondisinya masih bagus serta dikenakan  penalti denda 10% atas sejumlah modal barang yang diretur. Namun, selama ini Mega Baja mengklaim angka retur barang tidak terlalu tinggi. Itu terjadi lantaran pola kerjasama ini mengedepankan komunikasi dan konsultasi. Artinya, mitra kerja akan selalu mendapat advise dari Mega Baja terkait cara menjual, cara mengatur stok, hingga cara berpromosi.

Pola bisnis Mega Baja ini tergolong cerdas. Sebab hanya dengan menjadi suplier bagi mitra kerja saja, Mega Baja sudah mendapat ‘recurring income’ atau pendapatan rutin yang berulang. Menurut Idul, satu toko besi baja dibawah payung brand Mega Baja rata-rata beromset Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar per bulan. Jika saat ini ada 20 toko mitra maka omset rata-ratanya mencapai Rp 25 miliar per bulan.

Idul menambahkan, margin harga besi baja tidaklah besar. Paling tinggi sekitar 10%. Jadi apabila omset toko rata-rata Rp 1,5 miliar, maka margin yang bisa diperoleh adalah Rp 150 juta per bulan. Dipotong overhead kantor misalnya gaji pegawai, listrik, dan lain-lain maka keuntungan bersih mitra sekitar Rp 60-80 juta per bulan. Sayangnya tidak diketahui secara pasti berapa besar suplai barang yang dikirim Mega Baja kepada seluruh toko mitra.

About arfcograph

Powered by Blogger.